Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Puisi Tentang Corona

Berhentilah Melawan Corona...

Sejatinya kitalah yang salah,
Membabat habis hutan sebagai rumah
Sejatinya kitalah yang salah,
Bermacam dosa kita anggap lumrah
Sejatinya kitalah yang salah,
Beradu bantah saling mencari celah

Berdamailah duniaku
Berdamailah kita
pada takdir yang menimpa
Mari bersama menjaga
Menjaga satu jiwa itu berarti jiwa seisi dunia
cukup #dirumahaja

Keuwuan 1

Assalamu'alaikum.. entah siapa kamu yang membaca semoga sehat selalu ya. semoga selalu dalam lindungan Allah. buat kamu yang baru buka blog ini "selamat datang ya!" selamat datang di catatan sejarah kecil hidupku, hehhe. Gako bosen-bosen bilang kalau kamu bukan anak raja, bukan anak orang kaya, maka menulislah. Maaf ya, terkadang saya merasa memang ingin dikenang. Ingin diakui. Ingin abadi dalam karya. Adanya blog ini sebagai realisasi. semoga untuk beribu tahun ke depan blog ini gak dihapus deh sama google, hehhe. pusing ya?? baru awal nih wkwkw.

Pada kesempatan ini pengen curhat sedikit nih. buat kamu yang di rumah aja gapapa. mari kita sambat dan bercerita bersama. bukan, bukan bahas corona kok. ini bahas perihal rasa. adu duhh.. hehhe ya namanya bicara rasa boleh nih follow dulu ignya @bicararasa_podcast atau boleh juga dengerin podcastnya di anchor.fm atau di spotify. maaf ya promosi oke deh lanjut.

Pagi ini lagi-lagi dan gara-gara stalking stories ig muncul keresahan-keresahan yang datang.Begini kita punya seseorang yang dekat dengan kita. sering kemana-mana bareng. Ya teman dekat sebutlah. suatu saat orang itu mulai hidup sendiri. ehm, maksudnya bisa jadi sudah tidak dengan kita atau mungkin sudah dipisahkan oleh jarak, waktu, dan kondisi. yang sebelumnya suka makan bareng, ngerjain tugas bareng, atau temen nongkrong misalkan. Sekarang sudah tidak lagi, tidak ada sapa, tidak temu, dan tidak ada laku.

Bagi saya tak perlu menyalahkan semua kepergian teman-teman kita dari hidup kita. semua itu kepastian. semua juga bakal menemukan dunianya masing-masing. Toh kita juga gak akan kehabisan teman. ya gak? wwkwk.

Tapi gini temen, pernah gak sih ada rasa yang tumbuh ketika melihat teman lama kita wajahnya cerah tersenyum bahagia bersama teman-teman barunya atau bahkan pasangannya. rasa apa itu? sulit sih didefinisikan. tapi gini yang bisa jadi kumpulan rasa rindu... seneng ngeliat bahagianya temen, tapi juga iri. hmm kok iri sih.

Mungkin ini egoisnya saya.. kenapa iri? karena saya pengen tuh temen-temen yang dekat sama saya mendapat kebahagiaan itu juga. Bakal berfikir mundur dulu waktu sering sama saya bagaimana ya? bahagia gak sih? atau justru nyesel ketemu saya? hmmm.

Ketika kita melihat kebahagian-kebahagian itu apalagi di sosial media. kebanyakan orang bilang sih itu bisa jadi di dunia mayanya saja. "keuwuan" itu mungkin hanya cerita-cerita di depan kamera? setelah lepas dari kamera hidup normal kembali.

Bagi saya orang yang termasuk jarang membuat stories ig. biasanya yang menjadi trigger buat buat story itu karena emosi, entah itu lagi bahagia-bahagianya atau lagi sedih-sedihnya. Jadi, gak semua sih yang diupload disosmed cuman topeng aja. karena banyak dari kita ingin berbagi karena kejujurannya.

Keuwuan tiu semoga senantiasa bisa kita syukuri adanya. Rasa bahagia itu memang sederhana adanya. Melihat senyum orang yang dicinta, memberi hadiah kecil pada seseorang, memberi perhatian yang lebih disaat ada waktu luang, atau hanya bercada receh. Tidakkah memberi kebahagiaan pada saudara kita itu berpahala?

Yuk berdamai dengan corona, mari kita bercerita..!

CERBUNG Setangkai Bunga dan Dua Helai Daun - Persahabatan Itu Sederhana (eps01)

Embun pagi membasahi daun-daun hijau. Bunga mekar di setiap tangkai yang kokoh. Tersirami hujan, terbakar sinar, atau terhembus angin. Tangkainya meliuk-liuk, namun tetap kokoh membawa mahkota bunga. Satu persatu kuamati hijaunya daun, indah dan wanginya bunga. Hingga kulihat setangkai bunga dan dua helai daun mengapitnya. Entah mengapa aku iseng mematahan tangkainya, lalu kusimpan di saku bajuku. AKu pulang membawanya. Aku letakkan di gelas kecil, sebagai hiasan di meja belajarku. Setangkai bunga dan dua helai daun.
                                                                   

Lihatlah Dari Sudut Pandang Yang Lain! Lalu Kerjakan!

Betapa malu diri ini kepada para anbiya' kepada Rasulullah saw, sahabat-sahabat beliau, para tabi'in, para ulama terdahulu, dan bahkan orang di sekitar yang tanpa berfikir untuk beribadah, mengerjakan kebajikan, dan membantu sesama.

Betapa naif diri ini yang selalu menimbang-nimbang amalan, mempertanyanyakan, dan masih saja berfikir menghambat pengamalan.

Dulu, para sahabat ketika Rasulullah saw. memerintahkan sesuatu kepada mereka atau bahkan hanya karena Rasulullah melakukan, mereka langsung melakukan mencontoh sebisa mereka tanpa bertanya apakah itu amalan wajib atau sunnah. Sudah terbangun di hati mereka keimanan yang kuat lagi kokoh. Maka imanlan yang mendorong kita berbuat baik

Kenyataannya pada diri ini, berusaha membangun iman mengokohkan lagi menguatkan. Eh, dihantam sedikit saja godaan langsung roboh. Sejatinya iman memang bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Membantu orang lain saling tolong menolong, saling menasehati adalah kebaikan-kebaiakan yang Allah perintahkan kepada kita. Namun, kita sadari banyak sekali pertimbangan yang kita lakukan. Contoh kecil, ketika kita disuruh orangtua untuk membelikan sesuatu sedangkan kita lagi asyik ngegame misalnya."le.. tumbasne ibu cabe." Kita jawab, "Sebentar bu tinggal sedikit." Kita berfikir kalu ditinggal nanti gak jadi menang, gak bisa naik level. Mungkin juga kita berfikir nanti dululah, ibu masaknya juga masih nanti. Bahkan ketika posisi kita capek, habis pulang sekolah, atau posisi PW. kita bilang "Itu lho mas Fulan gak ngapa2xin."

Kita sering memandang pekerjaan dari satu sudut pandang saja. Andai saja fikiran kita langsung menuju pada kebaikannya. Kita berfikir membantu ibu termasuk dari usaha kita untuk berbakti keadanya. Berbakti kepadanya adalah sebuah kewajiban anak kepada orang tua. Kalau kita menentang kewajiban maka bedosa. Kita melihat dari sudut pandang yang lain. Jika kita bisa melihat sesuatu dari sudut pandang kebaikan, akan lebih mudah melakukannya.

Dari paparan di atas kita tahu dengan iman dan tidak memandang remeh suatu amalan atau kita bisa memandang dari sudut pandang kebaikan akan memudahkan kita untung mengerjakannya mengumpulkan tabungan amalan untuk membeli jannah-Nya. Lihatlah dari sudut pandang yang lain! Lalu kerjakan! Wallahu A'lam bishawwab.     

Tentang Pergi dan Kembali

Kembali... kembali pulang...
Begitu kiranya setiap makluk akan kembali
seperti burung yang akan kembali pulang,
setelah ia kenyang mencari makan
seperti kelelawar kembali ke sarang di pagi hari,
setelah berkelana di malamnya
seperti lebah bekerja mencari madu di bunga yang merekah,
dan akan kembali ke sarangnya
Begitu juga manusia...
manusia yang tercipta lemah...
walau tak selalu dapat apa yang ia inginkan,
tapi akhirnya hanya ingin pulang.

Sekiranya ada yang terlewatkan?
Bagaimana ia bisa kembali kalau tidak pergi?
Maka jika kau ingin kembali... 
Bepergilah... 
Fasiyruw... Berkelana... 
Fangdhuruw... perhatikanlah...
Begitu dengan jelas Allah perintahkan
Seperti halnya burung ia harus pergi untuk memenuhi kebutuhannya.
mencari makan untuk anak-anak dan dirinya
seperti kelelawar di malam yang kelam, ia harus pergi agar ia tetap bertahan hidup

Kiranya kau tak akan pergi...
tetap di rumah bersantai-santai...
nyaman di zona aman...
kau tak akan mendapatkan sedikitpun kemajuan
pergilah kau akan belajar...
pergilah kau akan tumbuh...
pergilah... pergilah... banyak orang menantimu...
kau dibutuhkan orang lain, seperti halnya kau membutuhkan orang lain

Setelah pergi itulah kau akan bisa kembali...
pulang..
terkadang kita belum bisa mendapatkan apa yang kita inginkan
tapi kita pulang duluan
terkadang pulang di luar terlalu menakutkan
kita pulang duluan
Baiklah, setelah cukup mengisi energimu di rumah
pergilah lagi... 
berkelanalah... perhatikan sekitar...
Berjuang... Berkorban...
Karena sejatinya kita akan kembali tiada lain tiada bukan hanya kepada-Nya
Kita kembali....

Merenung #4

Assalamu'alaikum...
Pada kesempatan ini saya akan tuliskan  masih dalam Merenung the series, Catatan seorang Baper ya terserah. hehhe. Kejadiannya tadi pagi. Inspirasinya dari teguran bapak lagi. langsung saja, silahkan !

Tadi pagi, Ibu cepat-cepat mau berangkat sekolah(baca:kerja) makanya aku disuruh ibu untuk ngeduk liwet istilah indonesianya gak tau, tapi maksudnya mengangkat nasi yang sudah ditanak ke tempat nyimpen nasi, ya contohnya dari rice cooker dipindah ke magic jar gitulah. Trus aku ambil tempat nasinya dari rice cooker dan aku taruh deket magic jar. Inget pake serbet atau kain apalah karena panas, iyalah. hehhe. Setelah itu, aku ambil entong dan aku keduk nasinya pindahin ke magic jar.

Ya trus ngapa? Bentar.. Biasalah aku paling sebel makan nasi ada yang kering, pasti aku buang. Nah, waktu aku ngeduk liwet itukan ada ya nasi kering yang lengket di pinggir tempatnya, itu gak tak keruki atau maksudnya masih nempel di situ nggak tak ambil. Setelah itukan aku taruh tempatnya itu ke cucian trus aku isi air kran biar nasi yang lengket gampang diambil nantinya. Kebetulan bapak lewat "lhoh, itu nasinya kok gak diambil?" "kan kering bapak." "Ya diambil taruh di piring lain, apa kamu gk tau nasi itu awalnya dari padi trus diblablabla2x(lupaXD) baru bisa jadi nasi." Aku diem aja, lha wong kerannya udah tak buka. hehhe.

Dari itu aku berfikir, kalau aku ambil nasinya aku sendiriin di piring lain masih bisa dijemur, habis dijemur digoreng bisa jadi cengkaruk, jadi pakan ayam juga bisa. Intinya masih bisa dimanfaatinlah. Ini pelajaran penting jangan sepelekan yang kecil, padahal ia masih menyimpan manfaat.

Coba bayangin untuk menjadi sebutir nasi itu memerlukan proses yang panjang. Dari sebutir gabah ia tumbuh menjadi padi, padi yang masih tumbuh kecil diambil petani trus ditanam lagi dengan rapi. iya kan? Dalam proses tumbuhnya untuk siap dipanen, para petani harus rajin ngasih pupuk, belum lagi nannti klo ada hama, belum lagi juga kalau air di sawah habis harus ngairin air dulu. Setelah siap di panen, ya dipanen mau diapain lagi. hehhe. Hasil panennya harus dipisahkan dan diambil biji gabahnya. Biji gabah nannti dijemur dlu, setelah kerin gabah diambil berasnya dan dibuang bijinya baru bisa dimasak. Coba banyangin dari prosesnya yang lama itu-padahal yang saya tulis belum semua-mau kita buang begitu saja. Kita ambil pelajaran bawah syukurilah apa yang ada. Jangan mubadzirkan.

Aku juga berfikir barakah Allah dimakanan kita ini sulit didapat ya brarti?  kenapa kita harus menghabiskan nasi kita sampai tak tersisa bahkan Rasulullah memberi untuk menjilati jari-jari kita. Karena kita tak tahu barakah itu ada dimana. Coba bayangin kalau barakah itu ada di dalam nasi yang masih tertinggal d itempat yang udah diisi air tadi. Itu sulit men, padahal kadang kalau nasi kita jatuh, alah yaudah kita buang aja. Aku berfikir, kita beda dg Rasulullah umpamanya makanan pokok di sana roti ya. kan itu jelas padet semua. kalau jatuh kan juga jelas. Dihabisin tanpa tersisa juga lebih gampang. Wallahua'lam. cuman pikiran aja Allah maha tahu. Jangan ganti makanan pokok jadi roti lho ya. hehhe..

Sampai disini dulu. Kalau dari tulisan yang kmari2x hingga sekarang banyak kesalahan mohon dimaklumi dan dimaafkan. Semoga bermanfaat, Wassalamu'alaikum..  

Memahami Makna Cinta

"Betapa banyak tinta yang telah ditorehkan oleh para penulis untuk mengungkapkan cinta dengan berbagai misterinya...

Merenung #3

Assalamu'alaikum... Kembali lagi di Catatan seorang baper, hehhe. Kali ini saya mau tuliskan renunganku di alam bebas lebih tepatnya di pantai. Sebenernya dah seminggu yang lalu sih. Tapi, nggakpapa insya Allah bisa kita ambil inspirasinya.

Merenung #2

Assalamu'alaikum... kembali lagi di merenung #2. langsung sajalah, silahkan !


Ceritanya habis maksiat nih. maksiat ngapain yang kyak gimana yo pkoknya gtulah hdeh.. jangan bilang2xlah.. habis maksiat ogk bilang2x....   Sering sekali aku berfikir, kenapa sih kita masih lakuin maksiat? kita ini hidup untuk apa sih? kita ini hidu untuk apa? kita ini bakal kmana? emang kita gak bakal mati?hmmm, habis nglakuin maksiat itu sedih banget..


Merenung #1

Assalamu'alaikum... kembali lagi setelah sekian lama dan berlama-lama dalam kevacuman. ya intinya dah lama gak posting, gitu aja. Hari-hari ini, menghabiskan sisa-sisa liburan insya Allah saya akan tuliskan renungan yg hari-hari ini juga kurenungkan. Liburan ku dalam renungan. langsung saja dah baca ya.